Pengembangan model pencegahan komplikasi pasien diabetus millitus berbasis teori patient centered

Bahruddin, Moch and Dari, Tanty Wulan and Sumiatin, Titik (2023) Pengembangan model pencegahan komplikasi pasien diabetus millitus berbasis teori patient centered. Project Report. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.

[thumbnail of 01. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Halaman Proteksi.pdf] Text
01. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Halaman Proteksi.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (24kB)
[thumbnail of 04. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Abstrak.pdf] Text
04. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Abstrak.pdf

Download (32kB)
[thumbnail of 05. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Hasil Pelaksanaan Penelitian.pdf] Text
05. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Hasil Pelaksanaan Penelitian.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (379kB)
[thumbnail of 06. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Status Luaran.pdf] Text
06. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Status Luaran.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (663kB)
[thumbnail of 07. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Rencana Tahapan Selanjutnya.pdf] Text
07. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Rencana Tahapan Selanjutnya.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (7kB)
[thumbnail of 08. Dr Ners  MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Daftar Pustaka.pdf] Text
08. Dr Ners MOCH BAHRUDIN S.Kep, M.Kep - Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (226kB)

Abstract

Tingginya prevalensi penyakit diabetus millitus diakibatkan oleh sejumlah faktor yang berhubungan dengan self regulasi dan perilaku masyarakat yang cenderung mengalami pergeseran misalnya merokok, minum alkohol, makan makanan berlemak, stres dan kurangnya aktivitas fisik. Faktor-faktor tersebut dapat berisiko terhadap penyakit diabetus millitus. Teori Patien centered yang diterapkan dalam patien centered intervention yaitu mengharuskan pasien berfokus pada proses pengaturan diri guna memperoleh kesembuhan dan mencegah terjadinya komplikasi, hal ini mempunyai peran yang sangat besar pada pasien dan keluarganya pada saat pasien masih di rawat di Rumah Sakit maupun di rumah, hal tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, memiliki kepedulian untuk mengelola perawatan, mengetahui tentang obat-obatan, dan mengetahui tanda-tanda bahaya yang menunjukkan potensial komplikasi (Rofi’i, 2023).           Model perawatan penyakit kronis salah satunya adalah penyakit diabetus millitus yang menitikberatkan pada interaksi pasien yang aktif dengan tim yang proaktif. Hal itu berarti hubungan antara yang termotivasi dan memiliki pengetahuan, keahlian serta kepercayaan diri untuk membuat keputusan penting mengenai kesehatan mereka dan untuk mengaturnya serta sebuah tim yang mampu memberikan informasi, dukungan dan sumber – sumber perawatan dengan kualitas yang baik. Pasien dengan penyakit diabetus millitus membutuhkan dukungan untuk mendapatkan status kesehatan terbaik dan mempertahankan fungsinya selama mungkin. Upaya untuk menurunkan angka kejadian penyakit komplikasi pasien diabetus millitus diperlukan tindakan pencegahan dan penanganan dengan pendekatan multifaktor dan dilakukan secara komprehensif meliputi upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif (Rohmayanti, 2021).                                 Tujuan penelitian ini adalah           Umum           Pengembangan model pencegahan komplikasi pasien diabetus millitus berbasis teori patient centered           Khusus           1. Menganalisis pengaruh respon emosional : takut, Cemas, dan depresi terhadap patien centered pasien diabetus millitus           2. .Menganalisa pengaruh social support : keluarga, tenaga Kesehatan terhadap patien centered pasien diabetus millitus.           3. Menganalisa pengaruh koping individu terhadap patien centered pasien diabetus millitus.           4. Menganalisa pengaruh Respon emosional terhadap koping individu.           5. Menganalisa pengaruh social support terhadap koping individu.           6. Menganalisa pengaruh koping individu terhadap stabilisasi patien centered pasien diabetus millitus.           7. Menganalisa pengaruh patien centered terhadap komplikasi pasien diabetus millitus.                      Metotologi pada Penelitian ini meneliti tentang pengaruh antara teori patient centered pada pasien diabetus millitus. Populasi adalah seluruh pasien diabetus millitus di RSUD Bangil dengan kriteria Sampel sebagai berikut: Pendidikan minimal SD dan Pasien terdiagnosa diabetus millitus dengan besar menggunakan rumus rule of thumb (Neuman, 2000), yaitu 5 -10 kali jumlah variabel bebas yang diteliti. Besar sampel pada penelitian ini adalah ((18 x 2) + 6) x 5 = 210 maka jumlah besar sampel pada penelitian ini adalah 210 responden. Teknik pengambilan sampel crosectional.                      Hasil           Analisa deskripsi tentang responden dan mengenai indikator dari faktor- faktor penelitian ini, bertujuan memperoleh gambaran mengenai karakteristik responden penelitian dari beberapa aspek yang meliputi pendidikan, jenis kelamin, umur dan hubungan dengan keluarga. Selanjutnya analisis deskriptif juga dilakukan pada indikator-indikator dari variable penelitian. Analisis diskriptif frekuensi dikeluarkan dengan bantuan software SPSS. Hasil analisanya selengkapnya disampaikan pada Deskripsi karakteristik responden pasien diabetes millitus yang meliputi tingkat Pendidikan, lama sakit dan umur dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Karakteristik responden pasien pasien diabetus millitus (N= 210)                       Frekuensi (f) Persentase (%)           Pendidikan Tidak sekolah 0 0.0%            SD 80 38.1%            SMP 25 11.9%            SMA 65 31.0%            PT 40 19.0%            Total 210 100.0%           Lama sakit >1 tahun 40 19.0%            ≤ 1 tahun 170 81.0%            Total 210 100.0%           Umur responden           Minimum Maximum Mean Std. Deviation           26.0 74.0 50.73 10.32                      Berdasarkan pada tabel 1 pendidikan pasien diketahui menyebar disemua tingkatan sekolah. Paling besar tingkat SD 38.1% dan SMA 31%. Lama sakit diabetes millitus, diketahui mayoritas kurang dari 1 tahun yakni 81%. Kemudian Umur responden rata-rata 50,7 tahun dengan paling muda 26 tahun dan paling tua 74 tahun dengan nilai penyimpangan disekitar rata-rata sebesar 10.3 tahun.           Sehingga berdasarkan hubungan langsung dan tidak langsung, maka didapatkan hubungan total. Berikut hasil pengujian pengaruh total dari koefisien jalur didalam inner model.           Tabel 2. Hasil uji t dalam inner model: hubungan total           No Hubungan total antar faktor Original Sample (O) T Statistics P-value Keterangan           1 X1.Interpretation -> X3.Representation 0.556 8.066 0.000 Signifikan***           2 X1.Interpretation -> X4.Coping 0.308 6.059 0.000 Signifikan***           3 X1.Interpretation -> Y1.Patient centered 0.252 4.873 0.000 Signifikan***           4 X1.Interpretation -> Y2.Pencegahan komplikasi 0.075 1.459 0.145 Tidak signifikan           5 X2.Social Support -> X3.Representation 0.317 5.930 0.000 Signifikan***           6 X2.Social Support -> X4.Coping 0.176 5.655 0.000 Signifikan***           7 X2.Social Support -> Y1.Patient centered 0.144 5.142 0.000 Signifikan***           8 X2.Social Support -> Y2.Pencegahan komplikasi 0.043 1.803 0.072 Signifikan*           9 X3.Representation -> X4.Coping 0.554 8.357 0.000 Signifikan***           10 X3.Representation -> Y1.Patient centered 0.453 6.701 0.000 Signifikan***           11 X3.Representation -> Y2.Pencegahan komplikasi 0.135 1.683 0.092 Signifikan*           12 X4.Coping -> Y1.Patient centered 0.818 16.263 0.000 Signifikan***           13 X4.Coping -> Y2.Pencegahan komplikasi 0.244 1.895 0.058 Signifikan*           14 Y1.Patient centered -> Y2.Pencegahan komplikasi 0.298 1.963 0.050 Signifikan**           Keterangan: *** signifikan pada taraf 1%; ** signifikan pada taraf 5%; * signifikan pada taraf 10%.           Berdasarkan tabel 2 diatas yakni hasil pengujian total pengaruh hubungan antara faktor eksogen terhadap faktor endogen. Selanjutnya digunakan untuk menjawab tujuan penelitian, dengan hasil sebagai berikut.           1. Menganalisis pengaruh factor interpretasi (respon emosional takut, Cemas, dan depresi) terhadap factor . Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 4.873, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor interpretasi berhubungan signfikan terhadap factor Patient centered intervention.           2. Menganalisa pengaruh faktor social support (keluarga, tenaga Kesehatan) terhadap . Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 5.142, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor social support berhubungan signfikan terhadap factor Patient centered intervention.           3. Menganalisa pengaruh koping individu terhadap patient centered intervention pencegahan komplikasi diabetus millitus. Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 16.263, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor Coping berhubungan signfikan terhadap factor Patient centered intervention.           4. Menganalisa pengaruh factor interpretasi (Respon emosional) terhadap koping individu. Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 6.059, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor interpretasi berhubungan signfikan terhadap factor Coping individu.           5. Menganalisa pengaruh factor social support terhadap koping individu. Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 5.655, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor social support berhubungan signfikan terhadap factor Coping individu.           6. Menganalisa pengaruh factor representasi terhadap faktor patient centered intervention pasien gagal ginjal kronis. Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 6.701, karena lebih besar dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor representasi berhubungan signfikan terhadap factor patient centered intervention. 7. Menganalisa pengaruh factor patient centered intervention terhadap factor kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Berdasarkan nilai t statistic hubungan total yakni sebesar 1.963, karena lebih besar sama dengan dari t-tabel (1.96). Maka disimpulkan factor patient centered intervention berhubungan signfikan terhadap factor kualitas hidup.           Disamping itu, berdasarkan hubungan total (tabel 14), juga diketahui kesimpulan lainnya sebagai berikut.           a. X1.Interpretation terhadap X3.Representation, disimpulkan signifikan berhubungan (tstatistik 8.066) dengan taraf signifikan 1%.           b. X1.Interpretation terhadap Y2.Pencegahan komplikasi, disimpulkan signifikan berhubungan (t-statistik 1.459) dengan taraf signifikan 1%.           c. X2.Social Support terhadap X3.Representation, disimpulkan signifikan berhubungan (tstatistik 5.930) dengan taraf signifikan 1%.           d. X2.Social Support terhadap Y2.Pencegahan komplikasi, disimpulkan signifikan berhubungan (t-statistik 1.803) dengan taraf signifikan 10%.           e. X3.Representation terhadap X4.Coping, disimpulkan signifikan berhubungan (t-statistik 8.357) dengan taraf signifikan 1%.           f. X3.Representation terhadap Y2.Pencegahan komplikasi, disimpulkan signifikan berhubungan (t-statistik 1.683) dengan taraf signifikan 10%.           g. X4.Coping terhadap Y2.Pencegahan komplikasi, disimpulkan signifikan berhubungan (tstatistik 1.895) dengan taraf signifikan 10%.                      1. Koefisien determinasi (R2)           Koefisien determinasi (R2) menilai seberapa besar variasi dari faktor endogen yang mampu dijelaskan oleh faktor-faktor eksogennya dalam inner model. Apabila nilai R2 bernilai < 0,25 disebut lemah, nilai 0,25 sampai 0,5 disebut cukup, nilai 0,5 sampai 0,75 disebut baik, dan > 0,75 disebut sangat baik. Berikut ini hasil pengolahan nilai Koefisien determinasi (R2).           Tabel 3. Nilai koefisien determinasi (R2)           Faktor endogen R Square           X3.Representation 0.419           X4.Coping 0.307           Y1.Patient centered 0.669           Y2.Pencegahan komplikasi 0.089                      Berdasarkan tabel diatas, nilai koefisien determinasi dari X3. Representation bernilai 0,419 dimana masuk pada kategori cukup baik. Hal ini mengartikan bahwa besarnya variasi X3. Representation dijelaskan oleh faktor eksogen X1.Interpretasi dan X2. Faktor Social Support sebesar 41,9%. Sedangkan sisanya 58,1% dijelaskan oleh variabel lainnya yakni seperti variabel-variabel indikator dari X3. Representation.           Nilai koefisien determinasi dari X4. Coping individu bernilai 0,307 dimana masuk pada kategori cukup baik. Hal ini mengartikan bahwa besarnya variasi X4. Coping individu dijelaskan oleh faktor eksogen X3. Faktor Representation sebesar 30,7%. Sedangkan sisanya 69.3% dijelaskan oleh variabel lainnya yakni seperti variabel-variabel indikator dari X4. Coping.           Nilai koefisien determinasi dari Y1. Patient centered bernilai 0,669 dimana masuk pada kategori baik. Hal ini mengartikan bahwa besarnya variasi Y1. Patient centered dijelaskan oleh faktor eksogen X4. Coping individu sebesar 66,9%. Sedangkan sisanya 33,1% dijelaskan oleh variabel lainnya yakni seperti variabel-variabel indikator dari Y1.Patient centered.           Nilai koefisien determinasi dari Y2. Pencegahan komplikasi sebesar 0,089 dimana masuk pada kategori lemah. Hal ini mengartikan bahwa besarnya variasi Y2. Pencegahan komplikasi dijelaskan oleh faktor eksogen Y1. Patient centered sebesar 8,9%. Sedangkan sisanya 91,1% dijelaskan oleh variabel lainnya yakni seperti variabel-variabel indikator dari Y2.Pencegahan komplikasi.                      2. Predicted Relevance (Q2)           Evaluasi nilai Q2 bertujuan mengetahui relevansi prediksi dari variable faktor endogen yang ada dalam inner model akhir. Hair (2014) menyatakan apabila nilai Q2 lebih besar dari nol, maka faktor endogen tersebut mengartikan memiliki kemampuan yang relevan dalam memprediksi. Berikut ini nilai Q2 yang dihasilkan dari Blindfolding dari output Construct Crossvalidated Redundancy. Tabel 4 Nilai Q2 variabel factor endogen                                             Variabel endogen SSO SSE Q² (=1-SSE/SSO)           X3.Representation 210.0 210.0 0.188           X4.Coping 420.0 420.0 0.282           Y1.Patient centered 840.0 682.2 0.451           Y2.Pencegahan komplikasi 210.0 150.8 0.071                      Berdasarkan tabel 4, Q2 diketahui bahwa nilai Q2 dari variable faktor endogen yakni X3, X4, Y1 dan Y2 memiliki nilai Q2 yang lebih dari 0. Sehingga disimpulkan ke empat variable faktor endogen tersebut memiliki kemampuan yang relevan dalam memprediksi.                      Luaran           1. Wajib : jurnal terindeksi scopus sampai saat ini peneliti sudah submit           2. Tambahan : Haki

Item Type: Monograph (Project Report)
Uncontrolled Keywords: Pencegahan ; diabetus millitus ; teori patient centered
Subjects: R Medicine > RT Nursing
Divisions: Poltekkes Kemenkes Surabaya > Pusat Penelitan dan Pengabdian Masyarakat > Penelitian
Depositing User: Misnawar
Date Deposited: 12 Mar 2025 04:04
Last Modified: 12 Mar 2025 04:04
URI: http://repo.poltekkesdepkes-sby.ac.id/id/eprint/10219

Actions (login required)

View Item View Item